Mantanku Tenggelam

“Kamu ingat mantanku yang kontraktor kaya itu?” tanya Ninda.

“Iya,” jawabku.

“Yang mutusin aku karena aku lebih sibuk kerja daripada ngurusin dia?” Ninda menegaskan.

“Iya, aku ingat,” ujarku seraya meletakkan bacaanku. Mungkin yang Ninda minta adalah perhatian penuh pada ceritanya. Lantas aku bertanya, “Dia kenapa?”

“Meninggal”

“Innalillahi Wa’innalillahi Rojiun,” ucapku. “Meninggal kenapa?”

“Tenggelam di laut,”  ujar Ninda sambil menahan tawa. “Lagi berenang sama teman-temannya, datang ombak besar. Teman-temannya selamat, cuma dia sendiri yang terseret ombak.”

Aku tidak bisa mengerti dimana bagian yang lucu dari cerita itu sampai Ninda ingin menertawakannya. “Astaga. Itu naas banget.”

“Istrinya nggak kerja tuh, padahal anak-anak mereka masih kecil.”

“Kasihan istri anaknya,” aku mencoba bersimpati.

Ninda justru tampak tidak simpati sama sekali. “Coba dulu aku jadi nikah sama dia, nasibku pasti sama naasnya dengan nasib istrinya sekarang. Nggak punya kerjaan. Ditinggalin anak-anak yang masih kecil. Untungnya nggak jadi nikah.”

Hatiku berdenyut. Aku teringat mantan kekasihku yang juga meninggalkan aku dan menikah dengan perempuan lain. Seberapapun aku marah padanya, tetapi sejauh ini aku tidak sampai hati mendoakan hal-hal buruk terjadi padanya, atau pada istrinya, atau pada anaknya. Kalaupun sesuatu yang buruk terjadi padanya atau pada keluarganya, aku pasti ikut bersedih. Bagaimanapun juga dia pernah menjadi bagian penting dalam hidupku.

Dari cerita Ninda, aku menyadari tentang sesuatu. Aku sudah tidak mencintai mantanku lagi sekarang, tetapi ternyata aku juga tidak sebenci itu padanya sampai tega mengharapkan karma buruk terjadi padanya atau pada keluarganya. Aku lantas tersenyum-senyum sendiri. Mungkin inikah yang disebut move on? Ya, aku sudah merelakannya. Aku sudah melepaskannya dengan tulus.

Di dalam hatiku aku mengucap doa, “Untuk kamu yang perah membahagiakan aku, semoga sekarang kamu lebih bahagia, seperti aku yang saat ini juga lebih bahagia.”

 

Iklan

Kunang-kunang

“Semalam ada kunang-kunang,” ujarku.

“Aku tahu,” timpalmu.

“Kok tahu?”

“Aku yang kirim.”

Aku tertawa kecil.

“Dia bilang apa?” tanyamu.

“Nggak ada.”

Kamu tampak kecewa. “Harusnya dia bilang.”

“Bilang apa?”

“Kalau aku sayang sama kamu.”

Tawaku kembali pecah.

Terhimpit Masa Lalu

Kita memilih untuk tidak segera pulang setelah selesai menonton gigs musisi kesukaanku dan berbincang sebentar di sebuah taman yang tidak jauh dari venue. Kamu menyerahkan sebotol minuman ringan padaku, lalu duduk di sebelahku.

Thanks,” ucapku saat menerimanya.

Kamu hanya tersenyum, menegak minumanmu, lalu menatap ke arah taman luas yang sudah sepi. Aku mengamati wajahmu. Bagiku, kamu seperti sebuah buku yang terbuka lebar. Mudah dibaca. Lamunan yang ada di kepalamu saat ini pun aku tahu apa yang kamu bayangkan.

“Suka gigs-nya?” tanyaku membangunkanmu dari lamunan.

“Lumayan,” katamu.

Aku menunduk menatap kedua sepatuku. “Aku tahu kamu nggak suka. Itu bukan seleramu.”

“Enggak kok,” kamu mencoba mengelak.

“Aku juga tahu ketika kamu memandang taman luas yang sepi ini, sebenarnya kamu sedang membayangkan dia.”

“Dia?”

“Mantanmu.”

“Enggak,” sergahmu.

“Kalau malam ini dia yang mengajakmu, kamu pasti lebih bahagia. Dia nggak akan mengajakmu ke acara musik receh seperti ini. Kamu dan dia kan punya selera musik yang sama. Nggak seperti aku.”

Kamu tertawa. “Kamu marah? Cuma karena aku beda selera dari kamu?”

Aku menghela nafas. “Ini bukan sekadar masalah beda selera.”

“Lalu?”

“Ini tentang perasaanmu. Aku pikir memang karena kamu sangat mencintainya, maka kamu akan lebih bahagia bersama dia daripada bersamaku.”

“Saat ini aku belum bisa menentukan apakah aku lebih bahagia denganmu atau enggak, dan aku…”

“Justru itu,” aku memotong argumenmu. “Kamu harus bisa menentukan siapa yang sebenarnya membuatmu bahagia. Orang itulah yang harus kamu perjuangkan.”

“Kalau dia nggak ingin aku memperjuangkannya, lalu aku harus bagaimana?” tanyamu.

“Merelakannya,” ujarku. “Artinya, kamu akan berhenti mencari jiwanya di tubuh perempuan-perempuan lain.”

Kamu terkesiap.

“Nggak akan ada dua orang yang sama persis di dunia ini. Bahkan, dua orang yang terlahir  kembar sekalipun bisa memiliki pribadi yang berlainan. Kalau kamu terus mencarinya di tubuh perempuan lain, kamu hanya akan menemukan kekecewaan.”

“Kamu…” suaramu sedikit tercekat, “juga akan meninggalkanku… seperti dia?”

Aku menyentuh tanganmu. “Mungkin bukan cuma aku, tetapi juga setiap perempuan yang dekat denganmu. Siapapun akan kalah dalam pertandingan ini. Nggak akan ada perempuan yang mampu bersaing dengan masa lalu yang masih kamu cintai.”

“Bantu aku merelakannya,” kamu menggenggam tanganku.

“Aku nggak bisa,” aku melepaskan genggamanmu. “Nggak ada orang yang bisa membantumu selain dirimu sendiri. Merelakannya adalah bagianmu. Bukan bagianku, atau bagian siapapun. Kamu harus selesai dulu dengan masa lalumu, sebelum memutuskan untuk memulai hubungan yang baru, agar nggak ada lagi yang terluka di masa depan.”

“Apa kamu terluka karena ini?”

“Sedikit,” aku tertawa kecil. “Karena, kamu adalah laki-laki yang membuatku jatuh hati lagi setelah sekian lama. But, I’ll be fine.”

“Apa kita bisa bertemu lagi?”

Aku menggeleng padamu. “Aku akan bekerja di Surabaya bulan depan. Aku rasa ini pertemuan terakhir kita.”

Kamu memelukku beberapa saat. Setelah itu, aku tersenyum padamu untuk terakhir kali, dan berpamitan. Aku sungguh-sungguh berdoa pada hari itu bahwa suatu hari kamu bisa merelakan masa lalumu, agar kamu bisa melangkah menuju masa depan yang lebih membahagiakanmu. Kamu bukan orang jahat. Kamu hanya laki-laki yang meragu, dan tanpa kamu sadari keraguanmu itu melukaiku.

Sejak awal, kamu selalu membandingkanku dengan mantan kekasihmu. Akupun punya cerita tentang mantan kekasihku, tetapi aku lebih ingin mendengar cerita tentangmu dibanding dengan menceritakan mantan kekasihku, karena apa yang penting bagiku saat itu adalah kamu yang ada di hadapanku. Kita sama-sama mengakhiri hubungan sebelumnya dengan luka, tetapi aku meletakkan luka itu di masa lalu, sementara kamu selalu membawa-bawa lukamu dengan setia.

Kamu dan dia masih rajin berbalas komentar di media sosial. Dari situ aku bisa melihat bagaimana kalian berdua masih begitu saling memperhatikan sekalipun sudah berpisah sekian lama. Lagu yang kamu kirim untukku ternyata adalah lagu yang dulu disukainya. Buku-buku yang kita diskusikan adalah buku-buku yang disukainya. Tempat makan yang kamu pilih adalah tempat favorit kalian berdua dulu. Aku berusaha menyukainya, menikmatinya, mempelajarinya. Namun, apapun yang aku lakukan tidak pernah membuatmu puas, karena di dasar hatimu kamu tahu aku bukan dia.

Aku kini berada pada titik lelah untuk menarikmu keluar dari masa lalumu. Kamu seperti mengikat kakimu dengan jangkar yang tertancap dalam pada masa lalumu. Kamu seperti tidak ingin ditarik pergi darinya. Jadi, biarlah aku yang pergi. Aku tidak ingin lagi terhimpit di antara kamu dan masa lalumu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Karena Itu Cupid Menangis

“Ibu..” Cupid meraung seraya menyeruak ke pangku ibunya.

“Ada apa, Nak?” Aphrodite membelai rambut emas anaknya yang bersinar indah. Cupid menuruni keelokan paras ibunya. Mereka memiliki rambut yang sama berkilaunya, mata yang sama seindah batu mulia, dan senyuman yang sama mampu melelehkan hati setiap mata yang menatapnya.

Cupid terus saja terisak. “Aku kesal, Ibu. Sungguh kesal!”

“Apa yang terjadi, Nak?”

“Manusia-manusia itu semakin sulit diatur.”

“Mengapa seperti itu?” Aphrodite tidak paham. “Apakah susah membuat mereka saling jatuh cinta?”

Cupid menatap wajah ibunya. Matanya yang seperti zamrud itu sembab karena airmata. “Mereka itu keterlaluan, Ibu!” Cupid kembali merajuk.

“Katakan padaku apa yang mereka lakukan?”

“Lelaki masa kini itu terlalu takut terluka, Ibu! Dan, perempuan masa kini itu tidak takut kesepian! Coba Ibu bayangkan, bagaimana keduanya bisa jatuh cinta, Ibu?”

Aphrodite menggeleng-gelengkan kepalanya. “Bila cinta sudah tidak dibutuhkan lagi, dunia ini akan menjadi tempat yang begitu sunyi.”

“Karena itulah, Ibu,” Cupid terisak, “karena itu Cupid menangis.”

 

Kenapa Kamu Datang

“Aku datang,” katamu.

Aku mengernyit. Aku tidak tahu kenapa kamu datang, lalu memintaku juga datang.

Aku sedikit bahagia, karena iya aku ingin melihat wajahmu sekali lagi. Namun, aku juga ingat kamu pernah bilang akan datang, tapi lalu tidak pernah bilang jika ternyata tidak jadi datang.

Menunggu itu bakat. Tidak setiap orang diberi kemampuan menunggu. Aku orang yang tidak sabaran, tapi aku mau menunggumu. Menunggu dan menunggu. Setelah kamu tidak pernah datang, aku pikir ini bukanlah menunggu. Ini merusak diri. Ini bukan bakat, bukan anugerah. Ini kutukan jika aku menunggu untuk sesuatu yang sia-sia. Maka, aku pergi.

Lalu, aku berpikir menggunakan imajinasi paling kelam, bagaimana saat itu kamu membiarkan aku menunggu, bahkan tidak minta maaf setelahnya. Mungkin aku bukan sesuatu yang penting buatmu, bahwa “aku datang” yang kamu ucap itu sekadar kelakar buatmu. Mungkin kamu bahkan tidak berpikir berapa lama aku menunggumu. Mungkin kamu tidak peduli denggan perasaanku, apakah aku marah, apakah aku bosan. Mungkin aku hanya pilihan dari sekian nomor di kontakmu. Sekalipun aku bilang aku tidak bisa datang, kamu tidak kehilangan. Mungkin semudah itu kamu menekan nomor lain di kontakmu dan berkata pada mereka, “Aku datang.”

Maka, setiap kali kamu bilang kamu datang, aku akan ingat bahwa kamu pernah ingkar.

Mencintai Seekor Burung

Jika kamu mencintai seekor burung yang cantik, apa yang akan kamu lakukan?

Mematahkan sayapnya dan mengurungnya, atau membiarkannya tetap terbang bebas di udara?

Bukankah kamu jatuh cinta padanya ketika dia berkicau bebas di pangkuan angin?

Ketika burung tidak lagi bersayap, bisakah dia berkicau dengan riangnya?

Sekalipun kamu membuat sangkar dari permata, apakah dia akan bertahan hidup di sana dengan rasa sakit di ulu jiwanya?

Jika suatu hari nanti jiwanya mati, apakah jiwamu akan tenang?

Katakan padaku, bagaimana kamu akan mencintainya?

Terima Kasih

Wanita itu makan dengan lahapnya. Suaminya duduk di depannya sambil menggendong anak mereka yang baru satu tahun. Setiap kali anak mereka merengek, suaminya akan menggoyangkan gendongan dan mengajak anak mereka bercanda.

Wanita itu tiba-tiba berhenti makan, dan menatap suaminya.

“Ada apa?” tanya suaminya.

“Terima kasih,” ujar wanita itu.

Suaminya melongo. “Untuk apa?”

Wanita itu hanya tersenyum sambil melanjutkan makan. Anak mereka merengek lagi. Suaminya kembali menenangkan anak mereka.

Di dalam hatinya, wanita itu berkata, “Terima kasih, karena kamu bersedia menggendong anak kita, dan membiarkan aku makan dengan tenang sejenak.”

Setara itu berbeda tapi bekerja sama, dan dasarnya adalah cinta.

Bingung – Ikhsan Skuter

kiri dikira komunis

kanan dicap kapitalis

keras dikatai fasis

tengah dinilai tak ideologis

muka klimis katanya necis

jenggotan dikatai teroris

bersurban dibilang kearab-araban

bercelana levis dibully kebarat-baratan

diam dianggap pasif

lantang katanya subversif

bertani dianggap kuno

jadi pegawai distempel mental londo

memilih jadi kere salah

ingin kaya sangatlah susah

belum berhasil dihina

sukses jadi omongan tetangga

makin hari makin susah saja menjadi manusia yang manusia

sepertinya menjadi manusia adalah masalah buat manusia

menjadi bintang ketinggian

menjadi tanah kerendahan

jadi matahari tak sanggup

menjadi bulan terlalu redup

gedung gedung ditinggikan

akal sehat dihancurkan

sekolah dimahalkan

ilmu dibuang ke selokan

Pendamai

Saya melihat pemandangan indah hari ini. Seorang teman wanita menerima telepon dari suaminya yang mengabarkan bahwa suaminya ketinggalan pesawat. Kenapa hal kecil begitu bisa jadi sangat indah di mata saya? Karena beginilah percakapan mereka yang bisa saya dengar (saat itu teman saya pakai loudspeaker) :

Istri : Halo, Pa?

Suami : Ma, aku ketinggalan pesawat.

Istri : Loh, kenapa?

Suami : Tadi macet banget di jalan.

Istri : Terus gimana, Pa?

Suami : Beli tiket lagi, Ma. Yang tadi hangus.

Istri : Oh, gitu..

Suami : Gak apa-apa ya, Ma?

Istri : Iya, gak apa-apa. Hati-hati ya, Pa.

Jadilah pendamai bagi setiap orang yang kita temui, terutama keluarga kita, maka damai itu akan tinggal dalam hati kita.

Dhammapada- Yamaka Vagga

Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu,

pikiran adalah pemimpin,

pikiran adalah pembentuk.

Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran jahat,

maka penderitaan akan mengikutinya,

bagaikan roda pedati mengikuti langkah kaki lembu yang menariknya.

Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu,

pikiran adalah pemimpin,

pikiran adalah pembentuk.

Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran murni,

maka kebahagiaan akan mengikutinya,

bagaikan bayang-bayang yang tak pernah meninggalkan bendanya.