11021281_10204023195363394_8735518823808649289_n

Jatuh – Karya Grimzlina

Apa yang kau tahu soal jatuh?
Jatuh dari ketinggian?
Jatuh dari langit?
Aku tahu bahwa jatuh adalah sebuah proses yang melibatkan ketinggian dan juga gradien.
Ketika kau jatuh, tubuhmu pasrah pada gravitasi bumi.
Degup jantungmu seakan berhenti, namun aliran darahmu justru semakin deras mengalir.
Adrenalin menguasai tubuhmu, memberikan tekanan maksimal,
dan menghempaskanmu ke bawah.
Itulah jatuh, Kawan.
Berada di atas, lalu di bawah.
Tak menyenangkan, bukan?
Lalu mengapa cinta diberi awalan jatuh?
Bukankah hal itu membahagiakan?
Dengar, Kawan, kuberi tahu sebuah rahasia.
Ketika jatuh berpasangan dengan cinta, ia akan mencoba menipumu.
Jangan memanggil jatuh ketika ada cinta, karena dia siap membawamu ke atas kapan pun.
Namun, dalam sekejap ia pasti akan menggiringmu ke bawah.
Ia berteman baik dengan gravitasi,
sehingga tak ada kesempatan bagimu untuk berlama-lama di atas dengan cinta.
Kau tahu cinta itu terbuat dari kaca.
Gravitasi dan jatuh akan menghancurkannya.
Ingatlah hal ini, Kawan, jika cinta telah berada di dekatmu dan jatuh menghampirimu.
Jatuh tak akan pernah membuat cinta menjadi utuh dan nyata.
16427571_10202841703600091_5984469510614252807_n

berpendar, kuning, meremang – Karya Rusa Kuning

 

Jalanan yang padat,
sorotan lampu,
wajah yang ingin segera istirahat, suara klakson,
serta sebuah rindu di bawah lampu kota.

ada keinginan untuk pergi,
menjauh, merenung, menunggu pagi.

masih terjaga, meregang pikiran,
memenangkan argumen dalam otak.
lupakan sejenak tentang dunia,
dan tentang kosongnya hati.

malam yang panjang, bagi mereka yang masih di jalan.
ingin pulang, pada sebuah rindu.
pada hangatnya kasur di kamar.

di suatu sudut, beberapa masih memeluk malam.
berusaha menjajakan dagangannya.
secangkir kopi dan kacang rebus.

di beberapa kamar lampu masih menyala putih,
bergelut dengan data.
berteman suara ketikan.

kegelapan yang menggelayut menahan beberapa insan untuk tetap di luar.
sebagian lainnya takut dikepung remang,
diam di dalam kehangatan peluk.

jalanan mulai beranjak sepi,
rentetan hujan mulai jatuh,
sewarna senja,
Lampu kota menerawang menembus hujan.

kenangan serupa senja,
keinginan serupa baja.
ada doa dan harapan,
ada pula sebuah masa depan.

selangkah lagi terang,
meski masih sejauh doa.
sebuah harapan yang hilang,
keyakinan yang berbeda.

lalu, fajar datang.
satu per satu mulai meredup.
tak ada lagi remang.
tak ada lagi khawatir dalam degup.

pulanglah,
pada lengan yang menantimu.
rumah hatimu berteduh.

hari ini, kamu harus bahagia.

 

Rusa Kuning ini adalah nama pena dari kawan baik saya di Semarang. He’s quite good at photography and writting poem. Suatu pagi, dia men-tag foto dan puisi ini ke wall Facebook beberapa teman, termasuk saya. Dia sedang mengikuti hashtag #30HariMenulisPuisi. Saya yang sedang di perantauan dan sedang kangen rumah ini instanly meleleh pada puisinya. Untuk menikmati karya-karya lainnya, silahkan ikuti akun instagram @rusakuning.

benang_merah1

Akai Ito

Pertemuan pertama adalah kebetulan, pertemuan kedua adalah takdir.

 

Seorang anak lelaki yang berjalan di malam hari. Dia melihat ada seorang lelaki tua yang bersender di sebuah pagar di bawah sinar rembulan sambil membuka-buka sebuah buku. Dia berdiri di dekat sebuah tas berukuran besar.

Anak kecil itu lalu bertanya, “Apa yang sedang kau baca?”

“Ini adalah buku pernikahan,” jawab lelaki tua itu. ” Aku hanya perlu menggunakan benang merah dalam tas ini untuk mengikat dua orang dan mereka akan berjodoh untuk menikah.”

“Aku tidak percaya akan hal semacam itu,” anak lelaki itu mencibir.

“Ikut aku.”

Lelaki tua itu lalu membawanya ke sebuah desa dan menunjuk seorang gadis kecil yang ditakdirkan untuk menjadi istrinya. “Dia adalah jodohmu.”

Karena dia masih kecil dan belum terpikir untuk menikah, anak lelaki itu pun menjadi kesal. “Aku tidak percaya padamu!” ucapnya seraya mengambil batu, lalu melemparnya pada gadis itu. Kemudian, dia berlari secepat yang dia bisa.

Bertahun kemudian, anak lelaki itu tumbuh menjadi seorang pria. Orang tuanya menjodohkan dia dengan seorang gadis yang baru akan ditemuinya saat hari pernikahan. Ketika dia membuka cadar sang pengantin wanita, dia bahagia karena istrinya itu merupakan wanita tercantik di desa tersebut. Namun, dia memperhatikan ada hiasan aneh di dekat alis matanya.

“Mengapa kamu menutupi alismu dengan hiasan itu, istriku?” tanyanya pada istrinya tentang hiasan tersebut.

Sang istri lalu menyingkirkan hiasan tersebut dan terlihat sebuah luka di alisnya. “Maafkanlah ketidaksempurnaanku, suamiku. Waktu aku kecil, seseorang pernah melempar batu padaku. Batu itu tepat mengenai wajahku dan meninggalkan luka di atas mataku.”

Lelaki itu merasa sangat haru. Dia memeluk istrinya itu dan berkata, “Biarkanlah luka itu. Itu adalah tanda bahwa kita memang ditakdirkan untuk bersama.”

 

Unmei no Akai Ito, atau juga disebut benang merah takdir, merupakan kepercayaan Jepang yang sebetulnya berasal dari Cina. Konon, di jari kelingking setiap orang ada benang merah tak kasat mata yang akan terhubung dengan jodoh sejatinya. Benang tersebut bisa saja pendek maupun sangat panjang. Dua orang yang benang merahnya saling terhubung bisa saja berada di tempat yang sangat berjauhan, bahkan bisa saja terpisah ruang dan waktu. Benang tersebut pun bisa saja kusut maupun terulur. Namun, tidak akan ada yang bisa memutuskan benang itu.

Beberapa Hal yang Tidak Banyak Diketahui Orang tentang Saya

Iseng aja nih. Paulo Coelho, penulis kesukaan saya, diwawancara oleh Independent UK tentang hal-hal rahasia dalam hidupnya. Saya memang belum sekelas Paulo Coelho, tapi siapa tahu dalam beberapa tahun ke depan saya menjadi seseorang seperti beliau, lalu ada media yang berniat mewawancara, maka saya sudah siapkan draft-nya. Haha, maafkan, saya anaknya visioner. Yah, setidaknya ini bisa jadi reminder buat diri saya sendiri tentang bagaimana saya memandang diri saya di awal tahun 2017. Monggo kalau mau ikutan, tinggal copas pertanyaannya di blog atau di sosmed.

The household I grew up in… adalah tempat yang sangat saya rindukan saat ini. Saat ini saya tinggal di luar kota untuk studi lanjut, dan saya sangat kangen rumah dan keluarga saya.

You wouldn’t know it but I am very good at… makan! Saat pertama bertemu saya, tidak ada orang yang menyangka bahwa orang dengan badan semungil saya ini ternyata jago makan dan porsinya banyak.

You may not know it but I’m no good at… buka tutup botol plastik. Setiap kali beli air mineral di minimarket, saya selalu minta tolong kasirnya untuk membukakan tutupnya untuk saya.

I wish I had never worn… pump shoes.

My favourite item of clothing… jeans dan kaos.

It’s not fashionable but I like
… army-printed legging saya yang dibilang celana dangdut sama teman-teman, wkwk..

My favourite work of art… karya-karya Nyoman Nuarta. Akhir tahun 2016, saya mengunjungi galeri beliau di Bandung yaitu NuArt dan terkesan dengan karya-karyanya sampai hari ini. Beliau adalah seniman di balik megahnya GWK Bali.

My favourite building… Mbaru Niang, yaitu 7 rumah tradisional yang tersembunyi di sebuah desa di atas awan bernama Wae Rebo. Saya mengunjunginya saat ngetrip ke Flores pada 2014.

A book that changed me… Supernova : Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh (Dee Lestari)

Movie heaven
… The Himalayas, disutradarai oleh Lee Seok-hoon.

My greatest regret… tidak ada yang perlu disesali, hal-hal yang menyenangkan adalah berkat untuk hidup saya, dan hal-hal yang mengecewakan adalah pelajaran untuk hidup saya.

My secret crush… Miroslav Klose.

My real-life villain… orang-orang yang memperlakukan orang yang lebih lemah darinya dengan semena-mena.

The last time I cried… hehehe akhir-akhir ini sering menangis, karena studi lanjut ini bukan hal yang mudah buat saya, dan kadang saya merasa berjuang sendirian di sini. Jadi, saat berdoa pada Tuhan, kadang saya meneteskan airmata. Namun, saya sungguh bersyukur dapat melalui pengalaman luar biasa ini. Doa dan dukungan dari keluarga dan orang-orang terdekat menjadi kekuatan saya. Terima kasih.

My five-year plan… saya akan terus bernafas, berjalan, dan bercerita.

Kue Cucur Kesukaanmu

I can’t make you love me if you don’t 

You can’t make your heart feel something it won’t

(Bonnie Raitt)

 

Aku dan Mona berlari ke arah kelas. Karena keasyikan membaca buku di perpustakaan, kami tidak menyadari bel masuk sudah berbunyi sejak tadi. Jika saja tidak ditegur oleh bapak penjaga perpustakaan, maka kami berdua pasti masih duduk bersila dalam diam, sementara pikiran kami berpetualang dalam labirin misteri Umberto Eco, atau menjelajahi dunia kolonial dari baik kacamata Pramoedya Ananta Toer.

Langkahku terhenti di depan tangga saat menyadari tidak ada derap Mona di belakangku. Saat aku menoleh ke belakang, Mona sedang berdiri di depan koperasi sekolah dan tampak sedang melihat-lihat jajanan di balik etalase. Aku menggeram kecil, dan berlari menuju Mona.

“Ayo, Mona! Kita mesti segera balik ke kelas,” aku menyenggol lengan Mona.

“Sebentar, Galih,” Mona masih melihat-lihat etalase. “Aku cari kue cucur.”

Aku menepuk dahiku sendiri. Dih, sempat-sempatnya anak ini kepikiran beli kue cucur di situasi begini, batinku kesal.

***

Kami beruntung bisa masuk kelas sebelum Bu Darni masuk ke kelas untuk memulai pelajaran. Setelah kami duduk di meja kami, Mona menghadap ke belakang. Anak yang duduk di belakang kami itu murid baru pindahan dari Yogyakarta bernama Cakra.

“Ini buat kamu aja, aku beli kebanyakan,” bisik Mona sambil menyerahkan dua kue cucur dalam plastik pada Cakra.

“Kebanyakan apaan? Kamu kan memang beli cuma dua,” timpalku.

Mona spontan melotot dan menginjak kakiku. Aku mengaduh pelan.

“Wah, makasih,” Cakra menerimanya. “Aku suka kue cucur.”

“Sama-sama,” Mona tersenyum manis pada Cakra, lalu membalik tubuhnya ke arah papan tulis kembali.

Aku menyenggol lengannya sembari berbisik lirih, “Ciyeee…”

Shut up,” ujar Mona malu-malu.

Aku tahu Mona jatuh hati pada Cakra. Aku selalu tahu ketika Mona jatuh hati. Dia memang suka kue cucur, tapi setelah Cakra bilang padanya bahwa dia juga suka kue cucur, Mona hampir setiap hari membeli kue cucur, agar bisa membagikannya pada Cakra. Atau, setidaknya agar Mona bisa melihat senyuman Cakra setiap hari.

***

“Risoles, cilok, lemper, keripik…” aku mengabsen jajanan yang dibeli Mona hari ini, dan menemukan keanehan. “Eh, hari ini kamu nggak beli kue cucur?”

“Beli,” ujar Mona lesu. “Tadi sudah aku kasih buat Cakra.”

Kemudian, aku menemukan keanehan berikutnya. “Terus, kenapa muka kamu kusut begitu? Biasanya setelah ngobrol sama Cakra, muka kamu langsung cerah kayak matahari pagi.”

“Galih, kamu pernah nggak makan banyak kue kesukaanmu, terus akhirnya kamu sakit perut?” ujar Mona.

“Sering lah,” aku tertawa. “Jangan bilang kamu lagi sakit perut karena kebanyakan makan kue cucur?”

“Bukan perutku yang sakit,” Mona mengendik ke arah teras kelas, “tapi hatiku.”

Aku melihat Cakra sedang duduk berdua dengan Vina di teras kelas. Mereka asyik bercanda sambil menikmati kue cucur yang diberikan Mona untuk Cakra. Aku menghela nafas. Sebenarnya aku sudah mendengar gosip di kelas bahwa Cakra sedang mendekati Vina. Cepat atau lambat pasti Mona akan mengetahuinya juga.

“Jangan beli kue cucur lagi ya,” pintaku pada Mona.

Mona tersenyum padaku, tapi aku tahu dia sedang menahan airmatanya. “Sebelum ini, aku juga sudah suka kue cucur.”

“Maksudku,” aku menarik nafas sesaat, “jangan menyukai dia lagi.”

Airmata Mona menetes perlahan. “Enggak,” katanya sembari mengusap airmatanya. “Nggak akan lagi.”

Aku meletakkan sebelah earphone-ku ke telinga Mona. Siang itu, kami mendengarkan Bonnie Raitt melantunkan lagu sedihnya bersama-sama. Siang itu, aku menemani Mona patah hati.

***

Seperti biasa, aku dan Mona terburu-buru menuju kelas. Karena keasyikan membaca buku di perpustakaan, kami tidak menyadari bel masuk sudah berbunyi sejak tadi. Jika saja tidak ditegur oleh bapak penjaga perpustakaan, maka kami berdua pasti masih bersembunyi di balik rak buku-buku Sastra kesukaan kami.

Langkahku terhenti di depan tangga saat menyadari tidak ada derap Mona di belakangku. Saat aku menoleh ke belakang, Mona sedang berdiri di depan koperasi sekolah dan tampak sedang memebeli jajanan. Aku mengernyit. Apakah dia membeli kue cucur lagi? Apakah dia akan memberikannya lagi untuk Cakra? Apakah dia sudah lupa sakit hatinya kemarin?

“Aku beli kue cucur nih, Galih,” ujarnya sembari melambaikan plastik berisi beberapa kue cucur di tangannya ketika aku menghampirinya.

Aku mendengus. “Kamu mau kasih untuk orang itu lagi?”

Mona tersenyum padaku. “Aku sangat ingin kasih kue cucur ini buat dia, lalu melihatnya tersenyum senang menerima kue cucur ini. Ada perasaan bahagia yang nggak bisa aku pahami meletup-letup di dalam hatiku setiap kali aku melakukannya, tapi…”

“Tapi?”

“Tapi, apapun yang aku berikan padanya, nggak akan membuatnya menyukaiku, jika dia memang nggak menyukaiku.”

Aku diam mendengarkannya, berusaha menebak kemana arah pembicaraannya.

“Orang yang menyayangi kita akan selalu ada untuk kita,” lanjut Mona, “tanpa menghitung apa saja yang sudah kita lakukan untuknya.”

Aku masih tidak paham. “Jadi… kue cucur ini?”

“Jadi, aku mau kasih kue cucur ini buat kamu,” Mona menyodorkan plastik kue cucurnya padaku.

“Eh?” aku terkejut. “Kok buat aku? Kamu makan aja lah.”

“Terima saja, Galih. Ini ucapan terima kasih,” ujar Mona.

“Untuk apa?”

“Untuk menjadi teman baikku.”

Untuk beberapa detik, aku bingung harus mengatakan apa. Akhirnya aku meraih kue cucur itu dari tangannya. “Memang paling susah nolak gratisan,” aku mencandainya.

Mona lantas tertawa. Aku lebih suka melihatnya tertawa seperti ini. 

Jangan sedih lagi, oke?” ucapku.

“Siaapp…” Mona terkekeh.

“Ayo, buruan ke kelas!” aku menarik tangannya. Mona pun mengikutiku berlari menuju kelas.

Terima kasih, Mona, untuk kue cucur kesukaanmu, dan untuk persahabatan ini.

 

Tips Naik Angkot yang Lucu

1. Pas naik angkot, pegang pintunya. Naiknya pelan-pelan, jangan sok manja pake minta ditolongin supirnya.

2. Kalau supir nanya, “Mau kemana mbak?” jangan dijawab, “Ke hatimu…” Bikin supirnya galau aja.

3. Walau narsis, jangan sampai ngajak supirnya foto bareng, apalagi pake upload di sosmed *tepok jidat*.

4. Naik angkot nggak perlu dandan cantik. Soalnya cuma di FTV kita bisa menemukan sopir angkot ganteng.  

5.Pas sopir mau pindahin gigi, nggak usah sok romantis pake pegang tangan dan tatap matanya, hadeeh.

6.Kalo duduk di belakang supir nggak usah tiba-tiba nutup matanya terus bilang, “Tebak aku siapa?” Sumpah, ganggu banget.

7. Inget loh, kalau sampai tujuan, ucapkan, “Kiri, Pir.” Jangan bilang, “Kiri, Beib…”

8. Sepenuh apapun angkotnya jangan duduk di pangkuan supir. Pokoknya jangan.

9. Terakhir dan terpenting, kalau terima uang kembalian, terima aja. Tidak usah pakai cium tangan segala.

The Physics of Love – Kim In Yook

 

Besarnya massa tidak sebanding dengan volume

Gadis itu, yang kecil sekecil violet

Gadis itu, yang melayang di langit seperti kelopak bunga

Dia menarikku dengan kekuatan yang lebih besar daripada yang diberikan oleh bumi

Dalam sekejap

Aku jatuh dan berguling ke arahnya tanpa sebab dan alasan

Seperti apel Newton

Dengan suara berdebar

Bum

Bum-bum

Hatiku memantul dari langit ke bumi

Dalam gerakan pendular yang memusingkan

Dia adalah cinta pertamaku

 

 

Puisi ini ada di dalam serial Goblin Episode 4

Alfa Omega (4a)

Creamy Karage Bowl,” pelayan itu menurunkan pesanan Alfa dan Omega dari nampan. “Silahkan.”

“Terima kasih,” ujar Alfa pada pelayan itu.

Omega memandangi makanannya dengan tatapan tidak sabar. “Hmm, siang ini saya akan bercerita banyak, jadi saya perlu banyak energi.”

Alfa terbahak. “Ah, palingan juga tiap siang porsi makan kamu segini.”

“Hahaha, memang!” sahut Omega sambil mulai memainkan sendok garpu di dalam rice bowl-nya.

“Dulu dia suka pesan apa di Checo?” tanya Alfa, juga telah mulai menyantap makanannya.

“Dia suka beef chop, dan kadang pesan frutarian dessert.”

“Kalian sering makan bareng di sini?”

Omega menggeleng. “Saya hanya tahu karena sering mengamatinya.”

“Jadi, setiap bertemu di sini, kalian benar-benar nggak pernah ngobrol?”

Omega menggeleng.

“Wow.”

“Kamu pasti nggak tahan dengan cara saya mengaguminya ya? Saya pun sebenarnya juga merasa begitu. Beberapa kali bertemu di Checo, saya hanya mampu diam-diam mengamatinya. Saya ingat saat itu Checo sedang memutar Creep dari Radiohead, dan seketika saya merasa sangat payah.”

“Dih, kamu baper,” ledek Alfa.

“Iya,” sahut Omega. “Setelah saya selesai menggambar punggungnya malam itu, saya menuliskan sepenggal lirik Creep di lembaran sketsa itu.”

“Apa yang kamu tulis?”

You’re so very special, but I’m a creep.”

“Kamu menyerah?”

“Saya sudah desperate dengan perasaan saya,” Omega terkekeh. “Lembar sketsa itu saya tanda tangani, saya sobek , lalu saya tinggalkan begitu saja di atas meja saat saya pulang.”

“Pasti sesuatu terjadi setelah itu,” tebak Alfa.

Yeap. Para pelayan menemukan sketsa saya. Sepertinya mereka suka, dan sepertinya mereka tahu saya yang gambar itu. Di luar dugaan saya, mereka punya inisiatif.”

“Mau ngapain mereka?”

“Mereka memajangnya,” Omega mengendik ke arah salah satu sketsa yang ada di dinding Checo. Sketsa punggung seorang laki-laki.

“Matiih!” tawa Alfa meledak. “Lalu, apa yang terjadi kemudian?”

“Suatu malam, saya makan sendiri di suatu meja. Saya lihat Gamma juga datang malam itu. Dia duduk di meja lain—seperti biasa. Dia pulang lebih dulu malam itu. Nggak lama setelah dia pergi, seorang pelayan datang pada saya mengantar sepiring cake untuk saya. Pesanan yang sama dengan pesanan saya sebelumnya. Saya bilang saya nggak pesan lagi. Dia bilang choco lava ini sudah dibayar oleh seseorang, dan katanya minta diantar ke meja saya. Saya ucapkan terima kasih, dan bertanya dari siapa. Pelayan itu bilang kalau orang itu nggak mau namanya diberitahukan pada saya.”

“Gamma!” pekik Alfa. “Saya tahu itu pasti dia!”

“Ada pesan yang ditulis dengan bolpoin di atas tisu yang datang bersama choco lava itu. Tertulis begini : Saya akan jamming Sabtu malam nanti di sini. Datang ya.”

“Ada nama Gamma di tisu itu?”

Omega menggeleng.

“Jadi, itu belum tentu dari Gamma?”

Omega mengangguk.

Damn,” Alfa mendengus. “Ini rumit.”

Omega tertawa. “Habiskan rice bowl-mu. Nanti keburu dingin.”

“Tapi, saya penasaran,” Alfa menggerutu.

“Ceritakan dulu cerita milikmu, nanti saya kasih tahu siapa yang mengirimi saya choco lava itu.”

Alfa menyilangkan kedua tangannya. “Cerita apa?”

“Apa saja, tapi harus menarik,” Omega menggigit sepotong karage-nya. “Kalau enggak, saya nggak akan lanjutkan cerita saya.”

“Kamu licik,” Alfa manyun.

Omega terbahak-bahak.

Ditulis di Cimahi pada malam penghujung 2016,

 saat saya lelah dan sedikit jengah dengan thesis.  

Lanjutan dari Alfa Omega (3)

Ketika Ada yang Bertanya Tentang Cinta

 

Ketika aku bertanya kepadamu tentang cinta, kau melihat langit membentang lapang. Menyerahkan diri untuk dinikmati, tapi menolak untuk dimiliki.

Ketika kau bertanya kepadaku tentang cinta, aku melihat nasib manusia. Terkutuk hidup di bumi bersama jangkauan lengan mereka yang pendek dan kemauan mereka yang panjang.

Ketika aku bertanya kepadamu tentang cinta, kau bayangkan aku seekor burung kecil yang murung. Bersusah payah terbang mencari tempat sembunyi dari mata peluru para pemburu.

Ketika kau bertanya kepadaku tentang cinta, aku bayangkan kau satu-satunya pohon yang tersisa. Kau kesepian dan mematahkan cabang-cabang sendiri.

Ketika ada yang bertanya tentang cinta, apakah sungguh yang dibutuhkan adalah kemewahan kata-kata atau cukup ketidaksempurnaan kita?

 

Karya M Aan Mansyur

Apa Jadinya Malaikat Tanpa Sayap

“Apakah kedua sayap itu berat?” anak itu menunjuk pada kedua sayap Phobos.

Phobos tersenyum. “Setiap kali aku harus mencabut bulu di punggungku untuk menolong manusia, saat itulah sayapku akan terasa lebih ringan.”

“Kalau begitu, sayapmu benar-benar berat,” cahaya di mata anak itu meredup.

Phobos memiringkan kepalanya. “Kenapa kamu berpikir begitu?”

“Ibuku bilang padaku, seandainya dia adalah seorang malaikat, maka aku adalah sayapnya. Namun, ketika aku melihat sayapmu begitu berat, aku merasa bahwa aku adalah beban yang berat bagi ibuku.”

Phobos memperhatikan wajah anak itu dengan seksama. Dia mengerti mengapa Ayah mengarahkannya untuk mengunjungi kamar rawat anak ini. Namanya Daniel, berusia 13 tahun, menderita kanker otak, dan secara ajaib bisa melihat Phobos.

“Apakah kamu tahu, ketika semua bulu di punggungku telah hilang, aku tidak akan bisa kembali ke langit?” ujar Phobos.

“Tidak bisa terbang lagi?” mata anak itu melebar. Anak yang ekspresif, pikir Phobos.

“Tidak bisa,” Phobos menggeleng.

“Apa jadinya malaikat tanpa sayap?” Daniel menyilangkan tangan di depan dada.

“Apa jadinya ibumu tanpa dirimu?” Phobos tersenyum pada anak itu.

Mata anak itu berkaca-kaca menatap senyum teduh Phobos. “Apakah kamu datang untuk menjemputku?”

“Tidak,” Phobos mencabut bulu dari punggungnya dan meletakkannya di telapak Daniel. “Aku hanya mencabut bulu sayapku sendiri, dan kamu… kamu adalah sayap ibumu.”

 

Diambil dari potogan novel saya, Jatuh Dari Langit.

Selamat Hari Ibu.