Distilasi Alkena – Karya Wira Nagara

 

Pernah bahagia kita merekah indah tanpa sedikitpun rasa gelisah.
Saat lantunan rindu adalah alasan setiap pertemuan.
Saat mencintaimu bukan hanya sekedar lamunan.
Aku tak pernah menyesal akan keputusanmu memilihnya.
Yang aku sesalkan, tiada setitikpun kesempatan bagiku untuk membuatmu bahagia.
Kesalahanku, menjadikanmu alasan segala rindu. 
Waktupun mengurai tetesan hujan menjadi bulir-bulir kenangan. 
Ia menelusuk tanpa permisi menuju nurani. 
Bukan perih yang aku ratapi, tapi pengertian yang tak pernah kau beri. 
Sadarlah, aku telah mencintaimu dengan terengah-engah.
Mencibir oksigen dengan menjadikanmu satu-satunya udara yang boleh mengisi setiap rongga.
Menghempas darah dengan namamu yang mengalir membuat jantungku tetap berirama.
Padamu aku jatuh hati.
Kesalahanku, tak pernah mencintai selain kamu.
Tingkat sepi paling mengerikan adalah sepi dalam keramaian.
Bagaimana mungkin aku menjauh jika hanya padamu keangkuhanku meluluh?
Bagaimana mungkin aku pergi jika bayanganmu masih saja menghiasi mimpi?
Bagaimana mungkin aku berpindah jika hanya padamu hatiku bersinggah?
Kesalahanku, isi doaku tak pernah selain namamu.
Cinta tak selamanya tentang kepimilikan.
Tapi cinta adalah tentang keikhlasan.
Terimakasih untuk segala rasa.
Kesalahanku adalah tak pernah merasa, bahwa untukku kau tak pernah punya cinta.
Saya pertama kali jatuh hati pada puisi ini setelah dibacakan oleh Fiersa Besari dalam salah satu videonya.  Dalam kamus Kimia, distilasi sendiri merupakan suatu metode pemisahan bahan kimia berdasarkan perbedaan kecepatan atau kemudahan menguap bahan. Sedangkan, alkena merupakan senyawa hidrokarbon tak jenuh dengan satu ikatan kimia rangkap dua. Saya membayangkan puisi ini sebagai ungkapan perpisahan dua hati yang sudah lama terikat cinta. Namun, di sisi lain juga adalah titik balik dari sebuah hati yang remuk dan mencoba perlahan bangkit. Ya, karena cinta adalah tentang keikhlasan.

Ceritakan Semua Padaku – Karya Siti Sarah Mujahidah

 

Ceritakan semua padaku

Aku ingin tahu

Aku sungguh ingin tahu

Karena, aku ingin ada untuk itu semua

Semua-mu

Ada apa?

Mengapa?

Tangiskan jika kamu mau

Basahi pundakku dengan isakmu

Teriakkan jika itu perlu

Paksa aku memberikan jawaban-jawaban terbaikku

Jangan menyimpan pertanyaan untuk dirimu sendiri

Aku di sini mendengarkanmu

Aku tidak akan jauh

Berceritalah semaumu

Mulailah dari satu hal yang kamu anggap mudah

Aku tidak akan jenuh

Tidak akan jemu

Luapkan padaku

Bahkan jika itu adalah tentangku

Jumat Agung – Karya Ulil Abshar Abdalla

 

Ia yang rebah, di pangkuan perawan suci, bangkit setelah tiga hari, melawan mati.
Ia yang lemah, menghidupkan harapan yang nyaris punah.
Ia yang maha lemah, jasadnya menanggungkan derita kita.
Ia yang maha lemah, deritanya menaklukkan raja-raja dunia.
Ia yang jatuh cinta pada pagi, setelah dirajam nyeri.
Ia yang tengadah ke langit suci, terbalut kain merah kirmizi: “Cintailah aku!”

Mereka bertengkar tentang siapa yang mati di palang kayu.
Aku tak tertarik pada debat ahli teologi.
Darah yang mengucur itu lebih menyentuhku.
Saat aku jumawa dengan imanku, tubuh nyeri yang tergeletak di kayu itu, terus mengingatkanku:
Bahkan Ia pun menderita, bersama yang nista.

Muhammadku, Yesusmu, Krisnamu, Buddhamu, Konfuciusmu —
mereka semua guru-guruku, yang mengajarku tentang keluasan dunia, dan cinta.
Penyakitmu, wahai kaum beriman:
Kalian mudah puas diri, pongah, jumawa, bagai burung merak.
Kalian gemar menghakimi!
Tubuh yang mengucur darah di kayu itu, bukan burung merak.
Ia mengajar kita, tentang cinta, untuk mereka yang disesatkan dan dinista.

Penderitaan kadang mengajarmu tentang iman yang rendah hati.
Huruf-huruf dalam kitab suci, kerap membuatmu merasa paling suci.

Ya, Jesusmu adalah juga Jesusku.
Ia telah menebusku dari iman yang jumawa dan tinggi hati.
Ia membuatku cinta pada yang dinista!

Semoga Semua Hidup Berbahagia dalam kasih Tuhan

Pemikiran di Dalam Kesendirian – Thomas Merton

 

Tuhanku, aku tidak tahu kemana aku melangkah

Aku tidak dapat melihat jalan di depan sana

Aku tidak tahu dengan jelas dimana jalan itu akan berujung

 

Dan, juga aku tidak begitu tahu tentang diriku

dan juga fakta bahwa sekalipun aku berpikir bahwa aku sedang mengikuti keinginan-Mu

ternyata tidak berarti aku sedang melakukannya

 

Tetapi, aku percaya keinginan untuk menyenangkan-Mu memang berarti ingin menyenangkan-Mu

Dan, aku berharap aku memiliki keinginan itu dalam setiap hal yang aku lakukan

 

Aku berharap aku tidak akan melakukan apapun yang jauh dari keinginan itu

Dan, aku tahu jika aku melakukannya maka Engkau akan memimpinku di jalan yang benar

Meskipun aku tidak bisa memahami jalan-Mu

 

Aku tidak akan takut, karena Engkau ada bersamaku selamanya

dan Engkau tidak akan meninggalkanku untuk menghadapi perjalanan ini sendirian

Me Time – Karya Karissami Samudaya

 

Saat aku meminta sekaligus menawarkan me time padamu, kau terdiam.
Meski tak sepatah kata keluar dari bibirmu namun aroma keengganan begitu kental menggantung.

“Kenapa? Kamu nggak pengen kita punya me time? Kamu nggak keberatan kalau waktu luang yang kita punya hanya kita habiskan bersama? Kamu nggak bosan kita telpon-telponan terus?”

“Kin, apa-apa yang dilakukan di waktu me time itu sudah aku lakukan sepanjang hidupku. Aku tidak kekurangan itu. Kelebihan malah. Yang kurang itu adalah waktu bersama kamu. Bersama kamu itu yang paling aku inginkan sekarang ini di atas me time.”

Sebenarnya apa yang kamu katakan itu persis dengan apa yang kurasakan. Hanya saja aku terlalu sok mempersoalkan pentingnya me time. Lengkap dengan tidak ingin mengekang, memberikan kebebasan, bla bla bla. Bahwa, meski bersama, kita harus tetap bisa menjadi diri kita sendiri.

Tapi, itulah kamu. Meski enggan, kita sepakati juga perkara me time. Tidak ada batasan tertentu kapan dan seberapa lama. Lentur saja sesuai kebutuhan masing-masing, dan pihak lainnya akan memberi sebesar-besarnya keleluasaan yang juga berarti : tidak ada kontak selama me time.

Tentu saja aku yang pertama mengambil jatah me time. Aku nikmati waktu bersama diriku tanpa kamu, meski hasrat untuk mengontakmu begitu menggedor-gedor memekakkan, hehehe. Terbilang sukses karena aku tidak mengontakmu, meski demikian.

Kali lainnya giliran kamu minta me time, meski aku percaya kamu hanya sekadar tidak mau kalah. Ngopi-ngopi bareng teman kantor, katamu. Baiklah.

Sejurus kemudian ada pesan masuk darimu : “Aku yang me time tapi aku yang kangen. Aku jadi nggak konsen di sini. Badannya di sini tapi pikirannya ke kamu terus.”

Tentu saja aku senang. Aku juga sama.
Kini, ketika tenggat atas kesepakatan besar kita lainnya tiba juga, ketika kita harus berada di koridor kita masing-masing, aku menginginkanmu teramat hebat. Tidak ada yang kulakukan tanpa mengingatmu. Kini aku hanya debu yang berusaha menjalani perannya.

Pergi

 

Saya tidak suka pergi

Ketika pergi mendatangkan hal-hal yang tidak pasti

Apakah mereka masih di sana saat saya kembali?

Ataukah mereka juga akan pergi?

 

Saya tidak suka pergi

Ketika akhirnya mengetahui mereka tidak menanti

Saya bertanya-tanya untuk apa saya kembali

Pada siapa saya kembali

 

Saya tidak suka pergi

Tetapi saya selalu harus pergi

lalu tidak satupun betah menanti

Lalu hati ini menjadi pedih

 

 

 

 

 

Mengenang Bondol

Ini catatan tiga tahun lalu saat masih ada Mas Bondol. Hehe, I still miss him sometimes. Dulu setiap saya pulang kerja, selalu ada dia yang menyambut saya dengan sikap cueknya yang khas ala kucing jantan. Meskipun cuek, tetapi dia selalu ada. Di sana, di tempat yang sama, melingkarkan tubuh endud-nya di kursi rotan di teras rumah. Tidak pergi dari sana sampai saya masuk rumah.

Sekarang, sekalipun saya punya kesempatan pulang ke rumah, saya tidak akan lagi melihatnya di sana melingkarkan tubuh endud-nya di kursi teras, atau di manapun di sisi rumah kami. Tidak apa-apa. Mungkin tugasnya sudah selesai. Tugasnya untuk mengingatkan saya banyak hal tentang kehidupan, termasuk tentang rasa syukur.

Sekalipun dia sudah pergi, kenangan tentangnya tetap mampu mengajarkan saya tentang rasa syukur. Hari ini, karena membaca catatan di Facebook tiga tahun lalu tentangnya, saya merasa sangat bersyukur. Saya akan copas catatan saya di bawah.

Terima kasih sudah datang dalam hidup saya, Bondol.

 

Bahagia itu apa?

Sekitar jam 6 pagi tadi saya buka jendela kamar. 

Langit pagi ini biru sekali.

Rumput jepang rawatan ayah saya menghampar hijau. 

Bondol, kucing jantan saya yang super endud itu, tidur di atas rerumputan, melingkarkan tubuhnya di sana, dan tidur sangat pulas.

Saya panggil berkali-kali, gak mau bangun juga. 

Wkwk, seketika saya langsung tertawa.

Lucu sekali gaya si endud itu tidur pulas di atas rerumputan.

Apapun tingkah Mas Bondol, selalu berhasil membuat saya tertawa. 

Saya jadi teringat kata-kata tetangga saya, “Bahagia itu adalah ketika kita bisa bersyukur.” 

Ya, sesederhana itu.

Matur nuwun, Gusti, untuk pagi ini. 

(Semarang, 12 Maret 2014)

 

Abt Vogler – karya Robert Browning

Would that the structure brave, the manifold music I build,
Bidding my organ obey, calling its keys to their work,
Claiming each slave of the sound, at a touch, as when Solomon willed
Armies of angels that soar, legions of demons that lurk,
Man, brute, reptile, fly,—alien of end and of aim,
Adverse, each from the other heaven-high, hell-deep removed,—
Should rush into sight at once as he named the ineffable Name,
And pile him a palace straight, to pleasure the princess he loved!
Would it might tarry like his, the beautiful building of mine,
This which my keys in a crowd pressed and importuned to raise!
Ah, one and all, how they helped, would dispart now and now combine,
Zealous to hasten the work, heighten their master his praise!
And one would bury his brow with a blind plunge down to hell,
Burrow awhile and build, broad on the roots of things,
Then up again swim into sight, having based me my palace well,
Founded it, fearless of flame, flat on the nether springs.
And another would mount and march, like the excellent minion he was,
Ay, another and yet another, one crowd but with many a crest,
Raising my rampired walls of gold as transparent as glass,
Eager to do and die, yield each his place to the rest:
For higher still and higher (as a runner tips with fire,
When a great illumination surprises a festal night—
Outlining round and round Rome’s dome from space to spire)
Up, the pinnacled glory reached, and the pride of my soul was in sight.
In sight? Not half! for it seemed, it was certain, to match man’s birth,
Nature in turn conceived, obeying an impulse as I;
And the emulous heaven yearned down, made effort to reach the earth,
As the earth had done her best, in my passion, to scale the sky:
Novel splendours burst forth, grew familiar and dwelt with mine,
Not a point nor peak but found and fixed its wandering star;
Meteor-moons, balls of blaze: and they did not pale nor pine,
For earth had attained to heaven, there was no more near nor far.
Nay more; for there wanted not who walked in the glare and glow,
Presences plain in the place; or, fresh from the Protoplast,
Furnished for ages to come, when a kindlier wind should blow,
Lured now to begin and live, in a house to their liking at last;
Or else the wonderful Dead who have passed through the body and gone,
But were back once more to breathe in an old world worth their new:
What never had been, was now; what was, as it shall be anon;
And what is,—shall I say, matched both? for I was made perfect too.
All through my keys that gave their sounds to a wish of my soul,
All through my soul that praised as its wish flowed visibly forth,
All through music and me! For think, had I painted the whole,
Why, there it had stood, to see, nor the process so wonder-worth:
Had I written the same, made verse—still, effect proceeds from cause,
Ye know why the forms are fair, ye hear how the tale is told;
It is all triumphant art, but art in obedience to laws,
Painter and poet are proud in the artist-list enrolled:—
But here is the finger of God, a flash of the will that can,
Existent behind all laws, that made them and, lo, they are!
And I know not if, save in this, such gift be allowed to man,
That out of three sounds he frame, not a fourth sound, but a star.
Consider it well: each tone of our scale in itself is nought;
It is everywhere in the world—loud, soft, and all is said:
Give it to me to use! I mix it with two in my thought:
And, there! Ye have heard and seen: consider and bow the head!
Well, it is gone at last, the palace of music I reared;
Gone! and the good tears start, the praises that come too slow;
For one is assured at first, one scarce can say that he feared,
That he even gave it a thought, the gone thing was to go.
Never to be again! But many more of the kind
As good, nay, better, perchance: is this your comfort to me?
To me, who must be saved because I cling with my mind
To the same, same self, same love, same God: ay, what was, shall be.
Therefore to whom turn I but to thee, the ineffable Name?
Builder and maker, thou, of houses not made with hands!
What, have fear of change from thee who art ever the same?
Doubt that thy power can fill the heart that thy power expands?
There shall never be one lost good! What was, shall live as before;
The evil is null, is nought, is silence implying sound;
What was good shall be good, with, for evil, so much good more;
On the earth the broken arcs; in the heaven, a perfect round.
All we have willed or hoped or dreamed of good shall exist;
Not its semblance, but itself; no beauty, nor good, nor power
Whose voice has gone forth, but each survives for the melodist
When eternity affirms the conception of an hour.
The high that proved too high, the heroic for earth too hard,
The passion that left the ground to lose itself in the sky,
Are music sent up to God by the lover and the bard;
Enough that he heard it once: we shall hear it by and by.
And what is our failure here but a triumph’s evidence
For the fulness of the days? Have we withered or agonized?
Why else was the pause prolonged but that singing might issue thence?
Why rushed the discords in, but that harmony should be prized?
Sorrow is hard to bear, and doubt is slow to clear,
Each sufferer says his say, his scheme of the weal and woe:
But God has a few of us whom he whispers in the ear;
The rest may reason and welcome; ’tis we musicians know.
Well, it is earth with me; silence resumes her reign:
I will be patient and proud, and soberly acquiesce.
Give me the keys. I feel for the common chord again,
Sliding by semitones till I sink to the minor,—yes,
And I blunt it into a ninth, and I stand on alien ground,
Surveying awhile the heights I rolled from into the deep;
Which, hark, I have dared and done, for my resting-place is found,
The C Major of this life: so, now I will try to sleep.

Jatuh – Karya Grimzlina

Apa yang kau tahu soal jatuh?
Jatuh dari ketinggian?
Jatuh dari langit?
Aku tahu bahwa jatuh adalah sebuah proses yang melibatkan ketinggian dan juga gradien.
Ketika kau jatuh, tubuhmu pasrah pada gravitasi bumi.
Degup jantungmu seakan berhenti, namun aliran darahmu justru semakin deras mengalir.
Adrenalin menguasai tubuhmu, memberikan tekanan maksimal,
dan menghempaskanmu ke bawah.
Itulah jatuh, Kawan.
Berada di atas, lalu di bawah.
Tak menyenangkan, bukan?
Lalu mengapa cinta diberi awalan jatuh?
Bukankah hal itu membahagiakan?
Dengar, Kawan, kuberi tahu sebuah rahasia.
Ketika jatuh berpasangan dengan cinta, ia akan mencoba menipumu.
Jangan memanggil jatuh ketika ada cinta, karena dia siap membawamu ke atas kapan pun.
Namun, dalam sekejap ia pasti akan menggiringmu ke bawah.
Ia berteman baik dengan gravitasi,
sehingga tak ada kesempatan bagimu untuk berlama-lama di atas dengan cinta.
Kau tahu cinta itu terbuat dari kaca.
Gravitasi dan jatuh akan menghancurkannya.
Ingatlah hal ini, Kawan, jika cinta telah berada di dekatmu dan jatuh menghampirimu.
Jatuh tak akan pernah membuat cinta menjadi utuh dan nyata.