Harapan Sederhana

Harapanku sederhana

Dari sedikitnya waktu kita bicara

Aku hanya ingin kita menyelesaikannya

Dengan sederhana

Dengan bahagia

Aku berhenti tertawa ketika kamu bicara

Dan kamu tertawa untuk berhenti bicara

Aku tidak tertarik padamu

Dan kamu mengabaikanku

Kita tidak tahu mulai dari mana

Kembang api itu

Telah hilang perciknya

Kini, harapanku sederhana

Kita menyelesaikannya

Dengan sederhana

Iklan

Suram

Sambil melihat orang-orang suram di tepian jalan, saya berdecak heran, “Semua orang datang kemari tanpa tujuan pasti. Mereka memenuhi kota dengan kesuraman, menemukan orang yang juga suram, lalu beranak-pinaklah kesuraman di kota ini. Yang lebih mengherankan, mereka bertahan di kota ini, meski sampai mati mereka tahu kota ini akan tetap suram.”

Lalu, seorang tua yang suram menyahut, “Lebih baik kami merasakan suram di sini, daripada tidak merasakan apapun di tempat lain.”

Pertanyaan saya terjawab. Harapan sesemu apapun adalah satu-satunya hal yang bisa dimiliki ketika manusia tidak memiliki apapun.

Late Nite Talks

“Kok kemarin malam kamu nggak bisa dihubungi sih?” suaramu terdengar parau di seberang.

“Ooh itu.. aku lagi ngobrol.”

“Sampai malam? Sama siapa?”

Aku terkikik pelan mendengar nada cemburumu. “Sama Bintang,” jawabku.

“Bintang itu siapa? Kok aku nggak pernah tahu kamu punya kenalan namanya Bintang?”

“Iya. Aku ngobrol sama bintang di langit semalam. Dia bercerita tentang bulan, dan aku bercerita tentang kamu.”

Kamu terbahak-bahak. “Bisa aja kamu..”

Bagaimana Kabarmu? – Imam Sakul

Untuk kamu yang tidak sengaja membaca ini, bagaimana kabarmu?

Apakah kamu baik-baik saja? Apakah kamu makan dengan teratur dan beristirahat yang cukup? Bagaimana hari-harimu? Masihkah kamu menyimpan bingkai pemberianku?

Ceritakanlah. Kisahkanlah lagi peristiwa yang kamu lalui kepadaku. Sungguh aku rindu.

Sekarang apabila kamu telah menemukan penggantiku, seseorang yang dapat menjaga hatimu utuh, bukan sepertiku yang hanya bisa mematahkannya berkali-kali, berbahagialah. Aku harap akupun berbahagia menyertaimu.

Oh, iya. Ada satu rahasia yang ingin aku beritahu kepadamu sejak lama. Aku mencintamu, seluas ikhlasku melepaskanmu.

Salam dari laki-laki tak tahu malu yang mendambakan kepulanganmu.

Semua Akan Baik-baik Saja

Semua akan baik-baik saja. Hidupku akan menjadi lebih baik, dan satu-satunya orang yang bisa mengubah hidupku adalah diriku sendiri. Aku ingin lebih banyak tersenyum, lebih banyak bercakap-cakap, lebih banyak menyayangi. Aku ingin menjadi nyata agar bisa menghadapi hal-hal nyata di kehidupan ini. Aku memilih pertarunganku, aku memilih caraku menyembuhkan diri, aku memilih seberapa lama aku ingin ada di suatu kondisi, dan aku memilih kapan saatnya aku kembali pada ritme kehidupan, pada rutinitas biasa, pada pekerjaanku dari pagi sampai sore, lalu pada buku-buku kesukaanku untuk akhir pekan.

Pada intinya, Kawan, hidup terus berjalan, tapi kita boleh sejenak beristirahat. Tidak ada yang memberitahuku tentang hal ini, aku memahaminya perlahan, bahwa menyembuhkan diri itu tidak terikat pada waktu. Menyembuhkan diri itu bisa beberapa hari saja, bisa juga beberapa tahun, dan itu tidak masalah. Pada akhirnya luka itu sembuh. Itu yang penting, tidak peduli seberapa lama atau seberapa parah aku terluka. Menyembuhkan diri adalah tentang belajar menyayangi diri sendiri, tidak hanya pada hari-hari yang mudah, tetapi juga pada saat aku merasa mati rasa, pada saat aku menangis di ujung hari, pada hari dimana rasanya malas untuk bangun. Jika aku tidak bisa menyayangi diriku sendiri saat hari ini terasa buruk, aku akan mencoba mulai menyayangi diriku pada esok hari, dan itu tidak masalah. Itu sangat manusiawi.

Di Balik Percakapan Tentang Cuaca

“Hei,” sapamu.

“Hei,” aku tersenyum mendengar suaramu.

“Mmh..”

“Kenapa?”

“Gimana cuaca di sana?” tanyamu kemudian.

Aku tersenyum. “Cerah kok. Gimana langit di kotamu?”

“Cerah juga.”

“Salam yak buat langit di kotamu. Bilangin ada yang kangen.”

“Iyah. Dia kangen juga kok.”

Dan, kemudian kita terdiam. Aku tersenyum di sini, berharap di sana kamu juga sedang tersenyum.

Mantanku Tenggelam

“Kamu ingat mantanku yang kontraktor kaya itu?” tanya Ninda.

“Iya,” jawabku.

“Yang mutusin aku karena aku lebih sibuk kerja daripada ngurusin dia?” Ninda menegaskan.

“Iya, aku ingat,” ujarku seraya meletakkan bacaanku. Mungkin yang Ninda minta adalah perhatian penuh pada ceritanya. Lantas aku bertanya, “Dia kenapa?”

“Meninggal”

“Innalillahi Wa’innalillahi Rojiun,” ucapku. “Meninggal kenapa?”

“Tenggelam di laut,”  ujar Ninda sambil menahan tawa. “Lagi berenang sama teman-temannya, datang ombak besar. Teman-temannya selamat, cuma dia sendiri yang terseret ombak.”

Aku tidak bisa mengerti dimana bagian yang lucu dari cerita itu sampai Ninda ingin menertawakannya. “Astaga. Itu naas banget.”

“Istrinya nggak kerja tuh, padahal anak-anak mereka masih kecil.”

“Kasihan istri anaknya,” aku mencoba bersimpati.

Ninda justru tampak tidak simpati sama sekali. “Coba dulu aku jadi nikah sama dia, nasibku pasti sama naasnya dengan nasib istrinya sekarang. Nggak punya kerjaan. Ditinggalin anak-anak yang masih kecil. Untungnya nggak jadi nikah.”

Hatiku berdenyut. Aku teringat mantan kekasihku yang juga meninggalkan aku dan menikah dengan perempuan lain. Seberapapun aku marah padanya, tetapi sejauh ini aku tidak sampai hati mendoakan hal-hal buruk terjadi padanya, atau pada istrinya, atau pada anaknya. Kalaupun sesuatu yang buruk terjadi padanya atau pada keluarganya, aku pasti ikut bersedih. Bagaimanapun juga dia pernah menjadi bagian penting dalam hidupku.

Dari cerita Ninda, aku menyadari tentang sesuatu. Aku sudah tidak mencintai mantanku lagi sekarang, tetapi ternyata aku juga tidak sebenci itu padanya sampai tega mengharapkan karma buruk terjadi padanya atau pada keluarganya. Aku lantas tersenyum-senyum sendiri. Mungkin inikah yang disebut move on? Ya, aku sudah merelakannya. Aku sudah melepaskannya dengan tulus.

Di dalam hatiku aku mengucap doa, “Untuk kamu yang perah membahagiakan aku, semoga sekarang kamu lebih bahagia, seperti aku yang saat ini juga lebih bahagia.”

 

Kunang-kunang

“Semalam ada kunang-kunang,” ujarku.

“Aku tahu,” timpalmu.

“Kok tahu?”

“Aku yang kirim.”

Aku tertawa kecil.

“Dia bilang apa?” tanyamu.

“Nggak ada.”

Kamu tampak kecewa. “Harusnya dia bilang.”

“Bilang apa?”

“Kalau aku sayang sama kamu.”

Tawaku kembali pecah.

Terhimpit Masa Lalu

Kita memilih untuk tidak segera pulang setelah selesai menonton gigs musisi kesukaanku dan berbincang sebentar di sebuah taman yang tidak jauh dari venue. Kamu menyerahkan sebotol minuman ringan padaku, lalu duduk di sebelahku.

Thanks,” ucapku saat menerimanya.

Kamu hanya tersenyum, menegak minumanmu, lalu menatap ke arah taman luas yang sudah sepi. Aku mengamati wajahmu. Bagiku, kamu seperti sebuah buku yang terbuka lebar. Mudah dibaca. Lamunan yang ada di kepalamu saat ini pun aku tahu apa yang kamu bayangkan.

“Suka gigs-nya?” tanyaku membangunkanmu dari lamunan.

“Lumayan,” katamu.

Aku menunduk menatap kedua sepatuku. “Aku tahu kamu nggak suka. Itu bukan seleramu.”

“Enggak kok,” kamu mencoba mengelak.

“Aku juga tahu ketika kamu memandang taman luas yang sepi ini, sebenarnya kamu sedang membayangkan dia.”

“Dia?”

“Mantanmu.”

“Enggak,” sergahmu.

“Kalau malam ini dia yang mengajakmu, kamu pasti lebih bahagia. Dia nggak akan mengajakmu ke acara musik receh seperti ini. Kamu dan dia kan punya selera musik yang sama. Nggak seperti aku.”

Kamu tertawa. “Kamu marah? Cuma karena aku beda selera dari kamu?”

Aku menghela nafas. “Ini bukan sekadar masalah beda selera.”

“Lalu?”

“Ini tentang perasaanmu. Aku pikir memang karena kamu sangat mencintainya, maka kamu akan lebih bahagia bersama dia daripada bersamaku.”

“Saat ini aku belum bisa menentukan apakah aku lebih bahagia denganmu atau enggak, dan aku…”

“Justru itu,” aku memotong argumenmu. “Kamu harus bisa menentukan siapa yang sebenarnya membuatmu bahagia. Orang itulah yang harus kamu perjuangkan.”

“Kalau dia nggak ingin aku memperjuangkannya, lalu aku harus bagaimana?” tanyamu.

“Merelakannya,” ujarku. “Artinya, kamu akan berhenti mencari jiwanya di tubuh perempuan-perempuan lain.”

Kamu terkesiap.

“Nggak akan ada dua orang yang sama persis di dunia ini. Bahkan, dua orang yang terlahir  kembar sekalipun bisa memiliki pribadi yang berlainan. Kalau kamu terus mencarinya di tubuh perempuan lain, kamu hanya akan menemukan kekecewaan.”

“Kamu…” suaramu sedikit tercekat, “juga akan meninggalkanku… seperti dia?”

Aku menyentuh tanganmu. “Mungkin bukan cuma aku, tetapi juga setiap perempuan yang dekat denganmu. Siapapun akan kalah dalam pertandingan ini. Nggak akan ada perempuan yang mampu bersaing dengan masa lalu yang masih kamu cintai.”

“Bantu aku merelakannya,” kamu menggenggam tanganku.

“Aku nggak bisa,” aku melepaskan genggamanmu. “Nggak ada orang yang bisa membantumu selain dirimu sendiri. Merelakannya adalah bagianmu. Bukan bagianku, atau bagian siapapun. Kamu harus selesai dulu dengan masa lalumu, sebelum memutuskan untuk memulai hubungan yang baru, agar nggak ada lagi yang terluka di masa depan.”

“Apa kamu terluka karena ini?”

“Sedikit,” aku tertawa kecil. “Karena, kamu adalah laki-laki yang membuatku jatuh hati lagi setelah sekian lama. But, I’ll be fine.”

“Apa kita bisa bertemu lagi?”

Aku menggeleng padamu. “Aku akan bekerja di Surabaya bulan depan. Aku rasa ini pertemuan terakhir kita.”

Kamu memelukku beberapa saat. Setelah itu, aku tersenyum padamu untuk terakhir kali, dan berpamitan. Aku sungguh-sungguh berdoa pada hari itu bahwa suatu hari kamu bisa merelakan masa lalumu, agar kamu bisa melangkah menuju masa depan yang lebih membahagiakanmu. Kamu bukan orang jahat. Kamu hanya laki-laki yang meragu, dan tanpa kamu sadari keraguanmu itu melukaiku.

Sejak awal, kamu selalu membandingkanku dengan mantan kekasihmu. Akupun punya cerita tentang mantan kekasihku, tetapi aku lebih ingin mendengar cerita tentangmu dibanding dengan menceritakan mantan kekasihku, karena apa yang penting bagiku saat itu adalah kamu yang ada di hadapanku. Kita sama-sama mengakhiri hubungan sebelumnya dengan luka, tetapi aku meletakkan luka itu di masa lalu, sementara kamu selalu membawa-bawa lukamu dengan setia.

Kamu dan dia masih rajin berbalas komentar di media sosial. Dari situ aku bisa melihat bagaimana kalian berdua masih begitu saling memperhatikan sekalipun sudah berpisah sekian lama. Lagu yang kamu kirim untukku ternyata adalah lagu yang dulu disukainya. Buku-buku yang kita diskusikan adalah buku-buku yang disukainya. Tempat makan yang kamu pilih adalah tempat favorit kalian berdua dulu. Aku berusaha menyukainya, menikmatinya, mempelajarinya. Namun, apapun yang aku lakukan tidak pernah membuatmu puas, karena di dasar hatimu kamu tahu aku bukan dia.

Aku kini berada pada titik lelah untuk menarikmu keluar dari masa lalumu. Kamu seperti mengikat kakimu dengan jangkar yang tertancap dalam pada masa lalumu. Kamu seperti tidak ingin ditarik pergi darinya. Jadi, biarlah aku yang pergi. Aku tidak ingin lagi terhimpit di antara kamu dan masa lalumu.