Kenapa Kamu Datang

“Aku datang,” katamu.

Aku mengernyit. Aku tidak tahu kenapa kamu datang, lalu memintaku juga datang.

Aku sedikit bahagia, karena iya aku ingin melihat wajahmu sekali lagi. Namun, aku juga ingat kamu pernah bilang akan datang, tapi lalu tidak pernah bilang jika ternyata tidak jadi datang.

Menunggu itu bakat. Tidak setiap orang diberi kemampuan menunggu. Aku orang yang tidak sabaran, tapi aku mau menunggumu. Menunggu dan menunggu. Setelah kamu tidak pernah datang, aku pikir ini bukanlah menunggu. Ini merusak diri. Ini bukan bakat, bukan anugerah. Ini kutukan jika aku menunggu untuk sesuatu yang sia-sia. Maka, aku pergi.

Lalu, aku berpikir menggunakan imajinasi paling kelam, bagaimana saat itu kamu membiarkan aku menunggu, bahkan tidak minta maaf setelahnya. Mungkin aku bukan sesuatu yang penting buatmu, bahwa “aku datang” yang kamu ucap itu sekadar kelakar buatmu. Mungkin kamu bahkan tidak berpikir berapa lama aku menunggumu. Mungkin kamu tidak peduli denggan perasaanku, apakah aku marah, apakah aku bosan. Mungkin aku hanya pilihan dari sekian nomor di kontakmu. Sekalipun aku bilang aku tidak bisa datang, kamu tidak kehilangan. Mungkin semudah itu kamu menekan nomor lain di kontakmu dan berkata pada mereka, “Aku datang.”

Maka, setiap kali kamu bilang kamu datang, aku akan ingat bahwa kamu pernah ingkar.

Iklan

Mencintai Seekor Burung

Jika kamu mencintai seekor burung yang cantik, apa yang akan kamu lakukan?

Mematahkan sayapnya dan mengurungnya, atau membiarkannya tetap terbang bebas di udara?

Bukankah kamu jatuh cinta padanya ketika dia berkicau bebas di pangkuan angin?

Ketika burung tidak lagi bersayap, bisakah dia berkicau dengan riangnya?

Sekalipun kamu membuat sangkar dari permata, apakah dia akan bertahan hidup di sana dengan rasa sakit di ulu jiwanya?

Jika suatu hari nanti jiwanya mati, apakah jiwamu akan tenang?

Katakan padaku, bagaimana kamu akan mencintainya?

Terima Kasih

Wanita itu makan dengan lahapnya. Suaminya duduk di depannya sambil menggendong anak mereka yang baru satu tahun. Setiap kali anak mereka merengek, suaminya akan menggoyangkan gendongan dan mengajak anak mereka bercanda.

Wanita itu tiba-tiba berhenti makan, dan menatap suaminya.

“Ada apa?” tanya suaminya.

“Terima kasih,” ujar wanita itu.

Suaminya melongo. “Untuk apa?”

Wanita itu hanya tersenyum sambil melanjutkan makan. Anak mereka merengek lagi. Suaminya kembali menenangkan anak mereka.

Di dalam hatinya, wanita itu berkata, “Terima kasih, karena kamu bersedia menggendong anak kita, dan membiarkan aku makan dengan tenang sejenak.”

Setara itu berbeda tapi bekerja sama, dan dasarnya adalah cinta.

Bingung – Ikhsan Skuter

kiri dikira komunis

kanan dicap kapitalis

keras dikatai fasis

tengah dinilai tak ideologis

muka klimis katanya necis

jenggotan dikatai teroris

bersurban dibilang kearab-araban

bercelana levis dibully kebarat-baratan

diam dianggap pasif

lantang katanya subversif

bertani dianggap kuno

jadi pegawai distempel mental londo

memilih jadi kere salah

ingin kaya sangatlah susah

belum berhasil dihina

sukses jadi omongan tetangga

makin hari makin susah saja menjadi manusia yang manusia

sepertinya menjadi manusia adalah masalah buat manusia

menjadi bintang ketinggian

menjadi tanah kerendahan

jadi matahari tak sanggup

menjadi bulan terlalu redup

gedung gedung ditinggikan

akal sehat dihancurkan

sekolah dimahalkan

ilmu dibuang ke selokan

Pendamai

Saya melihat pemandangan indah hari ini. Seorang teman wanita menerima telepon dari suaminya yang mengabarkan bahwa suaminya ketinggalan pesawat. Kenapa hal kecil begitu bisa jadi sangat indah di mata saya? Karena beginilah percakapan mereka yang bisa saya dengar (saat itu teman saya pakai loudspeaker) :

Istri : Halo, Pa?

Suami : Ma, aku ketinggalan pesawat.

Istri : Loh, kenapa?

Suami : Tadi macet banget di jalan.

Istri : Terus gimana, Pa?

Suami : Beli tiket lagi, Ma. Yang tadi hangus.

Istri : Oh, gitu..

Suami : Gak apa-apa ya, Ma?

Istri : Iya, gak apa-apa. Hati-hati ya, Pa.

Jadilah pendamai bagi setiap orang yang kita temui, terutama keluarga kita, maka damai itu akan tinggal dalam hati kita.

Dhammapada- Yamaka Vagga

Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu,

pikiran adalah pemimpin,

pikiran adalah pembentuk.

Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran jahat,

maka penderitaan akan mengikutinya,

bagaikan roda pedati mengikuti langkah kaki lembu yang menariknya.

Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu,

pikiran adalah pemimpin,

pikiran adalah pembentuk.

Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran murni,

maka kebahagiaan akan mengikutinya,

bagaikan bayang-bayang yang tak pernah meninggalkan bendanya.

Belajar dari Semut

Terkadang, kita sama-sama berpikir,

“Ah, mungkin dia sedang sibuk.”

Akhirnya, tidak jadi menyapa, telepon, atau tanya kabar.

Terkadang, kita berpikir takut mengganggu.

Lama-kelamaan, jadi acuh.

Lalu, muncul pemikiran,

“Buat apa aku yang lebih dulu

menyapa, tersenyum, menghubungi dia?”

Jika sudah seperti ini, rasa peduli jadi berkurang.

Akhirnya tidak ada kontak sama sekali, semuanya dilupakan.

Komunikasi sangatlah penting dalam hubungan

dengan teman, pasangan, keluarga, atasan,

maupun dengan Tuhan.

Kita bisa belajar dari semut.

Sesibuk apapun mereka bekerja, selalu menyempatkan untuk menyapa satu sama lain.

Bos Terburuk di Dunia

 

Bos terburuk di dunia ini adalah… diri Anda sendiri.

Kita sering mengkritik atasan kita yang tidak bisa memahami kita, serta tidak mau memberikan kelonggaran atas pekerjaan dan tugas kita. Kita lebih sering lagi memaki bos kita dalam hati yang mau seenaknya saja.

Tapi, sebenarnya siapa bos utama kita? Siapa bos terburuk kita? Jawabnya seperti jawaban-jawaban Anda, yaitu diri Anda sendiri. Siapa yang mampu memerintahkan kita untuk bangun jam 5 pagi untuk menyelesaikan tugas kemarin? Apakah bos Anda mampu memaksa Anda? Ketika dia bilang Anda harus belajar lagi dan membaca buku untuk menambah ilmu apakah Anda menurut? Kalau Anda tidak menurut, bukankah sebenarnya dia bos yang buruk?

Yang benar-benar memaksa Anda untuk mau “belajar lagi” dan “bekerja lebih keras” dan “menelpon lagi pelanggan yang sudah menolak delapan kali itu” hanyalah diri Anda sendiri. Apakah Anda mampu menyuruh diri sendiri dengan baik? Apakah Anda pernah memberikan evaluasi atas hasil kerja Anda setahun lalu, mengecek apa lagi yang harus diubah untuk menjadi lebih sukses ditahun ini?

Dengan mudah kita bisa mengkritik orang lain: kolega, atasan kita, bawahan kita. Tapi, pernahkah kita mengkritik diri sendiri tentang bagaimana cara kita menata kerja kita, bagaimana kita lupa akah hal yang seharusnya kita kerjakan kemarin, menunda pekerjaan yang penting dan sudah kita rencanakan lama? Ingatkah kita untuk menegur diri kita sendiri?

Kucing kecil kalau mengalami kesulitan akan terdiam dan harus diselamatkan ibunya dari kesulitan. Kera kecil kalau kesulitan, dia akan menanti ibunya lewat, lalu melompat dan menangkap ibunya. Bedanya yang satu pasif menunggu, yang satu aktif berupaya. Jadilah kera kecil.

Kita tidak bisa lagi secara pasif menanti orang memberi kesempatan pada kita. Kita harus berusaha secara aktif mencari cara untuk menolong diri kita sendiri. Untuk menjadi lebih baik, dan lebih sukses lagi. Kita adalah bos bagi diri kita sendiri, maka jadilah bos yang lebih baik.

Kita tahu sekarang, bos yang paling berkuasa adalah diri kita sendiri. Pertanyaan terakhir: “Apakah anda mau menjadi bos yang lebih baik?”

Kalau bukan mulai sekarang, kapan lagi?

 

Oleh : Tanadi Santoso

Kamu Bahagia?

Seorang teman bertanya, “Apakah kamu bahagia?”

Saya menjawab, “Saya kadang bahagia, dan kadang kecewa.”

“Bagaimana bisa kamu hidup di dalam ambiguitas?” tanyanya.

Saya tersenyum, dan beginilah penjelasan saya padanya. Bahagia bukan menjadi tujuan akhir hidup saya. Kebahagiaan atau kekecewaan akan selalu ada di sepanjang proses kehidupan. Jika kehidupan berlangsung seperti keinginan kita, maka kita bahagia. Jika tidak, maka kita kecewa. Bila bahagia adalah tujuan akhir kehidupan, maka kita akan menjadi manusia yang penuh kekecewaan, karena hidup tidak akan selalu berjalan sesuai dengan keinginan kita.

“Lalu, bagaimana kamu menjalani hidup yang kadang bahagia dan kadang kecewa?” tanya teman saya.

Saya menerima keduanya sebagai bagian dari kehidupan. Ketika bahagia, saya mensyukurinya. Ketika kecewa, saya mencoba mengambil pelajaran darinya. Dengan begitu, saya tidak terjebak dalam ambiguitas, tetapi berada pada suatu titik kedamaian. Inner peace. Well-being. Damai sejahtera. Itulah tujuan akhir hidup manusia, siapapun kita.

Barang siapa hanya melihat kebahagiaan, dia gila.

Barang siapa hanya melihat kesedihan, dia sakit.

(Pramoedya Ananta Toer)