Meskipun

Seorang pemberani bersedia melakukan sesuatu yang penting bagi hidupnya

Meskipun dia belum berpengalaman

Meskipun dia tidak memiliki uang untuk itu

Meskipun banyak orang meragukan kesempatan keberhasilannya

Meskipun telah banyak orang gagal dalam upaya yang sama

Meskipun sama sekali tidak ada jaminan

Meskipun sebetulnya dia sangat ketakutan

Meskipun lebih mungkin baginya untuk gagal

Iklan

Kecemasan

Tidak ada yang salah dengan kecemasan.

Meskipun kita tidak bisa mengendalikan waktu Tuhan, kecemasan itu adalah bagian dari kondisi manusia untuk mau menerima hal yang ditunggunya secepat mungkin. Atau, untuk mengusir apapun yang menyebabkan ketakutannya.

Begitulah sejak kecil hingga seterusnya, sampai kita mencapai usia saat kita menjadi acuh tak acuh terhadap kehidupan. Karena selama kita sangat terhubung dengan momen sekarang, kita akan selalu menunggu dengan cemas seseorang atau sesuatu.

Bagaimana Anda bisa mengatakan pada hati yang penuh hasrat untuk diam dan merenungkan mukjizat penciptaan dalam diam, bebas dari ketegangan, ketakutan dan pertanyaan yang tidak dapat dijawab? Kecemasan adalah bagian dari cinta, dan seseorang tidak bisa disalahkan karena itu.

Bagaimana Anda bisa memberi tahu seseorang agar tidak khawatir saat menginvestasikan uangnya dan hidupnya dalam mimpi dan belum melihat hasilnya? Petani tidak bisa mempercepat pergantian musim untuk memetik buah yang ditanamnya, tapi dia menunggu dengan tidak sabar menjelang musim gugur dan panen.

Bagaimana Anda bisa meminta seorang pejuang untuk tidak merasa cemas sebelum bertempur? Dia telah berlatih sampai titik kelelahan untuk saat itu, dia telah memberikan yang terbaik, dan sementara dia yakin dia siap, dia khawatir semua usahanya terbukti sia-sia.

Kecemasan lahir pada saat yang sama dengan manusia. Dan, karena kita tidak akan pernah bisa menguasainya, kita harus belajar hidup dengannya – sama seperti kita telah belajar hidup dengan badai.

diterjemakan dari MANUSCRIPT FOUND IN ACCRA karya Paulo Coelho

Hadiah – Percakapan Budha dengan Muridnya

“Jika seseorang memberikan hadiah kepada temannya dan ternyata temannya itu menolak hadiah tersebut. Jadi hadiah itu sekarang milik siapa?”

“Milik si pemberi, Guru.”

“Ya, jika seseorang menyodorkan kemarahan dan kebencian dan kamu menolak untuk menerimanya, lantas kemarahan dan kebencian itu milik siapa?”

“Milik yang marah, Guru.”

Sampai Jumpa Besok

 

Sapalah dengan penuh cinta, bermurah hatilah untuk tersenyum, dan balaslah sapaan orang yang menyapa kita. (Michael Sendow)

 

Ada seorang pria bernama Juan. Sehari-hari, ia bekerja di sebuah pabrik pendistribusian daging. Suatu hari, ia pergi ke ruangan pendingin daging untuk memeriksa sesuatu.

Sayang, nasib buruk menimpanya, pintu ruangan itu tertutup otomatis, dan ia pun terkunci di dalamnya tanpa seorangpun yang melihat. Juan berusaha menggedor-gedor pintu tersebut dan menariknya sekuat tenaga, akan tetapi ia tidak berhasil. Pintu itu hanya bisa dibuka dari luar.

Keadaan Juan semakin buruk, karena ruangan pendingin daging itu kedap udara dan kedap suara, maka yang di luar tidak mungkin mendengar teriakan dari dalam ruangan tersebut. Lima jam kemudian, saat Juan berada di ambang kematian karena kedinginan, di saat hampir semua karyawan sudah pulang, tiba-tiba seseorang membuka pintu gudang tersebut.

Juan terkejut. Penuh rasa syukur, ternyata Tuhan mengirim penyelamat baginya. Pria itu masuk dan mendekat, ternyata sosok penyelamat itu adalah Stanley, si penjaga keamanan pabrik yang biasa berjaga di depan pagar.

Setelah keluar dari ruangan mencekam itu, Juan meminta penjaga keamanan itu menceritakan padanya bagaimana ia bisa membukakan pintu ruangan pendingin daging itu, karena pekerjaan itu bukan bagian dari rutinitas pekerjaannya.

Stanley, si penjaga keamanan itu menjelaskan.

“Begini Tuan, di pabrik ini ada ratusan pekerja datang dan keluar setiap hari, tapi Anda adalah salah satu dari sedikit karyawan yang selalu menyapa saya di pagi hari dan mengatakan ‘sampai jumpa besok’ kepada saya setiap sore ketika meninggalkan tempat ini setelah jam kerja usai. Banyak yang memperlakukan saya seolah-olah saya tak terlihat. Hari ini, seperti biasanya, Anda menyapa saya saat masuk kerja. Tapi, setelah jam kerja berakhir, saya belum mendengar Anda mengucapkan kata ‘selamat tinggal, sampai jumpa besok’. Oleh karena itu saya memutuskan untuk memeriksa di sekitar pabrik. Saya masih berharap mendengar sapaan dari Anda setiap hari. Karena tidak mendengar kata ‘sampai jumpa besok’ dari Anda, saya curiga pasti sesuatu telah terjadi. Lalu, saya berusaha mencari dan akhirnya menemukan Anda!”.

Juan terperangah, ternyata keramahan kecil yang ia ucapkan setiap hari, itulah yang menyelematkannya! Benar seperti yang dikatakan orang, sebuah sapaan sederhana bisa mengantar pada berbagai keajabain.

 

 

 

Sumber: putramelayu.web.id

Cage of Fear – Karya Anu Anata Anastasis

 

Barang siapa berani mengikuti
sayap hatinya

membuka sangkar rasa takut
dan membebaskan burung di dalamnya

Hanya pada saat itu kita akan benar-benar
melihat burung itu berkicau riang

Akankah anjing itu mengikuti kita
ketika tidak ada tali yang mengikat lehernya

Apakah dia akan kembali
pada alasannya semula
atau dia akan terbang menuju tempat
dimana mimpi-mimpimu telah ditanam

Dia akan memanggil namamu dan berdoa untukmu
dari tempatnya
yang dipenuhi bunga-bunga
menujumu

Rencana

“Apa rencanamu hari ini?” tanyamu.

“Bernafas,” jawabku enteng.

Wajahmu jadi kaku. “Itu bukan jawaban,” desismu.

Aku terbahak. “Bagaimana jika aku jawab sebaliknya? Berhenti bernafas. Kamu lebih suka jawaban yang mana?”

Apa Kabar?

 

Dulu saya kaget ketika beberapa teman saya cerita mereka pernah/sedang mengalami gangguan mental tertentu. Bipolar, ADHD, anxiety disorder, depresi, skizofrenia.

Di kehidupan sehari-hari mereka hampir tidak ada bedanya dengan teman-teman lain. Kita tertawa bersama, main bersama, kerja bersama. Mereka semua terlihat menjalani hidup dengan baik-baik saja.

Tahu-tahu ternyata ada yang pernah ingin bunuh diri, mengurung diri di kamar 3 hari, menyakiti diri sendiri, mau kabur dari rumah, tidak makan berhari-hari, merasa restless, susah konsentrasi, dll. Mereka hanya susah buat cerita saja.

Sekarang saya mengerti.

Memang sesulit itu hidup di kota yang keras ini. Orang mencari kita hanya karena alasan profesional.

“Jangan lupa tugas ini.”

“Kumpulin ini jam 8 malem ya.”

“Besok harus dateng rapat ini-itu.”

Bahkan, sebuah “apa kabar?” sekalipun ada tujuan formal di baliknya.

Mereka menutup diri karena tahu orang-orang hanya akan menuntut dan mereka takut dianggap lemah. Mereka yang menuntut juga tidak tahu bagaimana caranya membantu karena sibuk dengan urusan masing-masing dan tidak tahu bagaimana caranya memulai.

Atau, lebih parah lagi, ada yang menganggap orang-orang itu lembek dan tidak mau usaha. Padahal, namanya sakit ya sakit aja. Kenapa ketika temen kita demam, kita bisa menyuruh dengan mudahnya agar dia istirahat, tapi ketika dia tidak bisa well-functioning karena masalah psikis, kita malah bilang dia kerjanya tidak becus tanpa mau tahu masalah besar di baliknya? Mungkin juga karena banyak orang susah untuk tahu kapan masalah di dalam dirinya itu bisa dikategorikan sesuatu yang serius.

Pada akhirnya tidak ada gunanya menyalahkan siapa-siapa. Mungkin sudah saatnya kita lebih peduli pada teman-teman kita yang mendadak hilang, berubah, sakit-sakitan, jadi tertutup, susah dihubungi, bicaranya susah dipahami, sering menangis, dan semacamnya.

Sebuah “apa kabar?” yang tulus mungkin hal kecil buat kita, tetapi tidak buat mereka.

 

Diadaptasi dari email seorang teman.

Akar

“Happy anniversary!” seru saya di depan layar HP.

“Loh, kok baru ngucapin?” tanya Ibu.

“Iya, maaf..” saya meringis. Kemarin saya melewatkan beberapa kali panggilan telepon dari rumah, karena ada kepentingan di kampus sepanjang hari. Setelah diingatkan kakak saya bahwa kemarin adalah wedding anniversary ke-32 dari orangtua saya, semalam saya segera kembali menelepon.

“Karena lupa, kuemu aku makan,” canda kakak saya sambil menggigit sepotong kue anniversary Bapak-Ibu. Saya hanya tergelak.

“Kemarin tuh ada ini-itu.. bla bla bla..” saya mulai beralasan.

“Iya, ndak apa-apa..” sahut Bapak yang duduk di samping Ibu. “Kami semua di sini mendoakan semoga semua urusan di sana lancar.”

“Supaya, tahun depan anniversary-nya bisa berempat lagi,” tambah Ibu dengan senyumnya yang begitu saya rindukan saat ini.

Sesaat saya terdiam. Ada rasa hangat menyelusup di dalam dada saya. Lalu, saya segera tersenyum pada mereka, tidak ingin mereka khawatir karena ekspresi haru saya.

“Siap!” kata saya kemudian. “Bapak dan Ibu sehat selalu yaa.. Tuhan memberkati.”

“Aamiin,” jawab Bapak dan Ibu bersamaan.

Di antara segalanya di kehidupan saya, mereka adalah akar dari kebahagiaan saya. Layaknya setiap manusia, saya pasti kembali pulang pada akar saya. Semoga dalam beberapa bulan ke depan, saya mengazamkan niat.

The Child of Ordinary

 

I cried tears of ordinary

I lived life of ordinary

I am the child of ordinary

 

Cut me then I bleed

Hurt me then I leave

 

Expect me not to become

an angel

I don’t have wings

nor miraculous whispers

 

Does angel have a heart

Like I have mine?

Like a drum, does it beat

Or it is as silent as grief?

 

Every bliss

Every sorrow

They are mine alone

 

No, not an angel

I am the child of ordinary

Seberapa Berdampak

 

Hari ini saya teringat pada Sika.

Malam itu saya minta bantuan Mas Nopi, penjaga kos lama saya, untuk mengambilkan emergency lamp yang dipasang di langit-langit kamar. Sika, anak perempuannya yang berusia 5 tahun, menemani ayahnya. Kami bercakap-cakap saat ayahnya bekerja mengambil emergency lamp saya.

“Halo, Sika,” saya mengelus punggungnya lembut. Sika menggandeng tangan saya dengan tangan kecilnya.

“Teteh main lagi yuk?” dia menatap saya dengan senyum perinya.

Saya berjongkok sehingga setinggi Sika. “Wah, Teteh belum bisa nemenin Sika main, Teteh mesti beresin kamar.”

“Ih, Teteh mah banyak PR,” keluh Sika.

Saya tergelak. Saya kadang menemani Sika bermain jika tidak ada tugas dari kampus, tapi seringnya sih selalu ada aja tugas dari kampus.

“Besok main lagi ya, nanti Sika bagiin kue Sika lagi,” kata Sika. Saya tersenyum. Ibunya suka kasih saya makanan kalau saya menemani Sika main. Duh, saya lupa kasih tahu Sika bahwa saya akan pindah kos.

“Sika, Teteh mau pindah kos,” ujar saya.

Sika memandang saya dengan tatapan yang tidak bisa saya jelaskan. “Jauh?” tanyanya.

Beberapa anak kos memang kadang suka pindah kosan, tapi biasanya masih di sekitaran Jatinangor. Namun, saya dapat penempatan kerja praktek cukup jauh di Cimahi.

“Teteh sekarang belajarnya di Cimahi, jauh dari Jatinangor,” saya menjelaskan.

“Nggak apa-apa,” kata Sika. “Nanti main ke sini lagi ya.”

Saya tersenyum. “Iya. Nanti Teteh main ke rumah Sika kalau ada waktu ya.”

Lalu, dia merangkul saya. Kaget juga, tapi saya terharu.

Seberapa berdampak keberadaan kita pada hidup orang lain akan terukur saat kita beranjak meninggalkannya.

Apa kabar Sika? Karena kesibukan di Cimahi, saya belum sempat menjenguk Sika. Semoga Sika tumbuh menjadi anak yang cerdas dan berbakti pada orangtua, negara, dan agamanya.